Bukan Wanita Biasa . . .
vino memegang tangan anisa sambil menatapnya dengan penuh harapan, wajahnya mulai mendekati wajah anisa seperti hendak mencium, dan “BUGGHHHH“ suara tendangan mengarah ke bagian vital vino, Burung.
Bebarapa hari kemudian, suara bel di rumah vino berbunyi, vino membuka pintu, terlihat anisa berdiri memegang sebuah bungkusan berisi gaun pengantin “eh anisa,ayo masuk dulu “ tawar vino “silahkan duduk nis,saya bikin minum dulu ya ” anisa duduk,ia terpaku melihat rumah vino yang begitu besar “liat apa nis? Ini di minum dulu” vino datang membawa segelas jus “rumah bapak gede banget ya? Tapi ko sepi ya pak? Yang lain kemana ? “ Tanya nisa, vino hanya terdiam, “kok diem pak? Maaf kalo saya lancing “ nisa menundukan kepala,sesaat kemudian vino mulai bercerita tentang semua angota keluarganya yang meninggal akibat kecelakaan pesawat,padahal bohog, keluarganya tingal di rumah yang lain. Anisa memegang pundak vino “sudah pak,jangan sedih, kan bentar lagi bapak akan menikah, bakal punya keluarga baru “ vino menatap anisa “menikah ? dengan siapa? Calon aja saya nggak punya, saya sengaja pesen gaun ini biar kamu berkunjung ke rumah saya, itu aja kok, pertama liat kamu di lestoran itu, saya langsung suka sama kamu nis” vino memegang tangan anisa sambil menatapnya dengan penuh harapan, wajahnya mulai mendekati wajah anisa seperti hendak mencium, dan “BUGGHHHH “ suara tendangan mengarah ke bagian vital vino,Burung. Vino bersujud di depan anisa tapi bukan meminta maaf, melainkan menahan rasa sakit. Anisa seketika keluar dari rumah vino, beberapa saat kemudian ia balik lagi menghampiri vino “Kamu berubah pikiran nis? “ Tanya vino dengan penuh keluguan sambil menahan rasa sakit, “sini bayar dulu gaun pengantinya ?” kata anisa jutek, vino memberikan sejumah uang,masih dala posisi bersujud, kemudian anisa berlalu.
Malamnya vino menelphon anisa untuk meminta maaf, dia menjelaskan bahwa dia terbaawa suasana waktu itu,padahal bohong, memang begitu lah hal yang biasa vino lakukan pada wanita yang ia suka, tapi kali ini ia gagal total, vino mengajak anisa ke sebuah panti mlik vino, anisa terkejut, awalnya ia tak percaya,tapi vino meyakinkan anisa, akhirnya anisa mau.
Tepat jam 10 pagi vino menjemput anisa,mereka memulai perjalanan menuju panti asuhan yang bertempat di bogor, “kamu suka anak kecil juga ya vin” Tanya anisa, “banget, anak kecil itu bikn aku ngerasa nggak kesepian, makanya kalo aku kangen keluarga, aku sering maen ke panti” padahal bohong,vino sama sekali tak pernah peduli dngan anak kecil,vino juga tidak puya panti asuhan di bogor, hanya kebetulan ayahnya seorang donator di sana.
Vino menghentian mobilnya di sebuah restoran, “kita makan siang dulu ya, perjalanan masih jauh” anisa mengangguk. Vino memesan spageti favorit anisa “saya juga “ kata anisa pada pelayan “ kamu suka spageti vin? “ Tanya anisa sambil tersenyum “ya begitulah,nggak jarang aku masak spageti sendiri, nanti kamu boleh nyobain spageti bikinan aku.enak banget deh pokoknya” lagi-lagi bohong,vino sama sekali tidak bisa memasak,dia hanya menarik perhatian anisa dengan cara menyukai segala sesuatu yang anisa suka, “serius kamu vin? Nggak sabar aku pengen nyobain, kalo enak kamu wajib ngajarin aku.oke” kata anisa takjub.
Dua jam berlalu,vino dan anisa akhinya sampai di tujuan, anisa bernain dengan anak-anak panti, sementara vino menemui ibu panti untuk membicarakan tentang kebohongan vino serta alasan ia berbohong, ibu panti pun memahamiya,dia akan bilang kalo panti itu milik vino jika anisa bertanya.
Sekali lagi vino menungkapkan perasaanya pada anisa, tapi nampaknya ini serius, vino memang sangat menyayangi anisa, “aku bakal buktiin sama kamu nis, kalo aku sayang sama kamu,aku cinta sama kamu, aku akan terus ada buat kamu,bahkan aku akan menjadi bagian dari diri kamu,aku janji”, nisa hanya terdiam “aku pengen kita menikah nis,pliiss kamu mau jadi istri aku” anisa menatap mata vino yang berkaca-kaca, penuh ketulusan, anisa memeluk vino dengan erat. Akhirnya mereka menikah, memakai gaun yang vino pesan ke anisa tempo lalu.